Senin, 06 November 2023

KEUTAMAAN ORANG YANG BERILMU


Allah SWT telah menciptakan manusia ke dalam bentuk yang paling bagus. Baik bentuk fisik yang terlihat dari luar, maupun organ-organ yang ada di dalam tubuhnya termasuk juga fungsinya. Secara fisik lahir, kita bisa melihat bagaimana Allah menetapkan Panjang dan jarang setiap organ. 

Tangan, misalnya, jarak antara ujung tangan sampai siku dengan siku sampai pundak tidak sama. Ketidaksamaan ini menjadikan tangan terlihat indah serta fungsional. Kemudian ukuran panjang kaki mulai dari ujung kaki sampai pangkal paha dengan ukuran badan mulai dari pangkal paha sampai leher.

 Posisi mulu, hidung, mata, dan telinga, panjang setiap ruas jari, panjang masing-masing jari dan sebagainya menunjukan jarak dan komposisi yang indah dan fungsional. 

Dan semuanya Nampak begitu seimbang. Inilah yang disebut oleh ilmuwan dengan sebagai Golden Ratio (rasio emas). 

Ini adalah sedikit gambaran kesempurnaan fisik manusia sebagaimana tersurat dalam surat at-Tin. Mengenai fungsinya, tangan manusia dapat digunakan untuk meraih apa saja yang diinginkan. Hal ini berbeda dengan hewan, menggunakan mulut untuk meraih sesuatu yang diinginkan. 

Demikian pula fungsi organ luar yang lain yang dapat digunakan sesuai kehendak manusia. Kesempurnaan organ dalam, misalnya otak, dengan otak manusia dapat berpikir, menerima dan menggali pengetahuan, membedakan yang mana yang baik untuk kehidupannya dan mana yang buruk akibatnya, memikirkan solusi permasalahan hidup yang dihadapi dan sebagainya (Harori, 2001:juz 32, 129). 

Di otak inilah, segala ilmu pengetahuan yang dipelajarinya bersemayam. 
Dan dengan ilmu pengetahuan ini pula, manusia memiliki keutamaan di bandingkan dengan makhluk yang lainnya. Ketika Allah Swt menciptakan Adam ‘alaihissalam, Allah mengajarkan ilmu pengetahuan tentang al-asma’ (nama-nama) seluruh ciptaan-Nya, dengan berbagai jenisnya, dan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda sebagai bekal bagi Adam untuk mengelola bumi. 

Hal ini mencerminkan, betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia. Maka, seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia, Allah Swt akan mengangkat derajatnya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Mujadilah ayat 11: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah : 11) Allah Swt. juga memuji orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, sebagaimana tersurat dalam surat Ali Imran ayat 18, yang artinya: شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. Di dalam surat az-Zumar ayat 9 Allah berfirman: قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ “Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. Selanjutnya dalam surat Fathir ayat 28, yang artinya: اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤا “Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” Rasulullah Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, juga memuji orang yang berilmu, sebagaimana tersebut dalam beberapa haditsnya, seperti yang terdapat dapat kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din bab Adab al-‘Ilm, sebagai berikut: روي عن النبي صلّى الله عليه وسلّم أنّه قال: أوحى الله إلى إبراهيم عليه السّلام: إنّي عليم أحبّ كلّ عليم “diriwayatkan dari Nabi Saw. beliau bersabda: Allah Swt memberi wahyu kepada Ibrahim as.: sesunggunya Aku (Allah Maha) mengetahui, Aku (Allah) mencintai orang-orang yang berilmu” روى أبو أمامة قال: سُئِل رسول الله صلّى الله عليه وسلّم عن رجلين: أحدهما عالم والاخر عابد, فقال صلّى الله عليه وسلّم: فضل العالم على العباد كفضلى على أدنا كم رجلا “Diriwayatkan dari Abu Umamah, berkata: Rasulullah Saw. ditanya tentang 2 orang, yang satu orang alim dan yang satunya ahli ibadah. Rasulullah Saw. bersabda: keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah seperti keutamaanku terhadap orang yang paling rendah di antara kalian (sahabat)” Di dalam kitab Tanqih al-Qoul al-Hatsits bi Syarh Lubab al-hadits karya Imam Nawawi halaman 8, terdapat hadis tentang keutamaan orang yang berilmu, yaitu: وقال صلى الله عليه وسلم فَقِيْهٌ وَاحِدٌ مُتَوَارِعٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ جَاهِلٍ وَارِعٍ Nabi Saw. Bersabda: Seorang faqih (alim dalam ilmu agama), wira’i (menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan) adalah lebih berat (sulit) bagi syaitan disbanding seribu ahli ibadah yang bersungguh-sungguh, (tapi) bodoh, (meskipun) wira’i. وقال صلى الله عليه وسلم فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ Nabi saw. bersabda, “Keutamaan orang yang berilmu (yang mengamalkan ilmunya) atas orang yang ahli ibadah adalah seperti utamanya bulan di malam purnama atas semua bintang-bintang lainnya.” وقال النبي صلى الله عليه وسلم نَوْمُ العَالِمِ أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الجَاهِلِ Nabi saw. bersabda, “Tidurnya seorang yang berilmu (yakni orang alim yang memelihara adab ilmu) lebih utama dari pada ibadahnya orang yang bodoh (yang tidak memperhatikan adabnya beribadah).” Beberapa perkataan para sahabat mengenai keutamaan orang yang berilmu, sebagaimana dinukil oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab Ta’lim wa al-Muta’allim halaman 20, sebagai berikut: Mu’adz bin Jabal ra. Berkata: تَعَلَّمُوْا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ حَسَنَةٌ وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ وَمُذَاكَرَتَهُ تَسْبِيْحٌ وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ وَبَذْلُهُ قُرْبَةٌ وَتَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لَا يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ “Belajarlah ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu adalah suatu kebaikan, mencari ilmu adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, membahas suatu ilmu adalah jihad, bersungguh-sungguh terhadao ilmu adalah pengorbanan, mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak memiliki pengatahuan adalah sedekah” Sufyan bin ‘Uyainah ra. Berkata: أَرْفَعُ النَّاسِ عِنْدَ اللّه مَنْزِلَةً مَنْ كَانَ بَيْنَ اللّهِ وَبَيْنَ عِبَادِهِ وَهُمْ الأَنْبِيِاءُ والْعُلَمَاءُ “Kedudukan tertinggi manusia di sisi Allah adalah para Nabi dan ‘Ulama (orang yang berilmu” Sebagaimana penjelasan di atas, dapat diketahui betapa luhur kedudukan orang yang berilmu. Maka tidak heran, para ulama terdahulu menghabiskan sebagian besar waktunya demi melestarikan ilmu, terutama ilmu syari’at Islam. 

 Bahkan, di antara mereka ada yang rela tidak berkeluargan demi mengabdikan diri sepenuhnya untuk ilmu. Misalnya, Ibnu Jarir at-Thobari seorang mufasir (ahli tafsir) dan sejarahwan, Zamakhsyari seorang mufasir dan teolog, Imam Yahya bin Syarof ad-Din an-Nawawi seorang ahli hadits (muhaddits), Ibnu Taimiyah dan sebagainya.

Mereka mendedikasikan dan mengabdikan diri untuk melestarikan ilmu. Sehingga sejarah mencatatkan sebagai orang-orang alim yang mempengaruhi dunia Islam. Referensi Al-Qur’an al-Karim Asy’ari, Hasyim. (1994). Adab at-Ta’lim wa al-Muta’allim.

 Jombang: Maktabah Turost al Islamy. Al-Mawardi, Abu al-Hasan Ali. (1971). Adab ad-Duna wa ad-Din. Lebanon: DKI. Harori, Muhammad al-Amin. (2001). Tafsir Hadaiq ar-Rouh wa ar-Roihan, Makkah: Dar Thouq an-Najah. An-Nawawi. (1935). Tanqih al-Qoul al-hatsits bi Syarh Lubbabul Hadis, Mesir: Musthofa Muhammad.

Pengetahuan Tentang Ghaib

 

Di dalam pembelajaran di Madrasah, peserta didik sudah diajarkan tentang perkara-perkara ghaib. Perkara ghaib termasuk bagian dari Aqidah. 

Oleh karenanya, perlu ditanamkan sejak dini. Di tingkat Madrasah Ibtidaiyah diajarkan tentang enam rukun iman, tingkat Madrasah Tsanawiyah diajarkan tentang makhluk ghaib selain malaikat dan peristiwa-peristiwa di alam ghaib. 

Sedangkat di tingkat Madrasah Aliyah diajarkan tentang prinsip-prinsip akidah dan metode peningkatannya. Mempelajari dan mengajarkan hal yang ghaib bukan hal yang mudah. Mengapa? ya karena panca indera tidak mampu menjangkaunya. 

Oleh karena itu, bukan lagi panca indera yang dibutuhkan untuk memahami akan tetapi hati dan pikiran dimana didalamnya bersemayam akal dan keyakinan. 

Bisa jadi, dengan penjelasan yang memadai akal dapat menerimanya. 

Namun sebaliknya, jika penjelasan tidak memadai justru akan menimbulkan kebingungan. Ibnu Faris mendefinisikan kata ghaib secara bahasa sebagai berikut: الغيب : كل ما غاب واستتر عن العيون سواء كان حسيا او معنويا “segala sesuatu yang tersembunyi dan tertutup dari mata baik secara rasa maupun maknawi” 

Pengertian ghaib dalam konteks syari’at dapat ditemukan dalam beberapa pendapat para ulama, terutama yang terkait dengan penafsiran kata ghaib yang terdapat dalam al-Qur’an. 

Contohnya sebagai berikut: الذين يؤمنون بالغيب Para ulama, menafsirkan “al-ghoib” dalam kalimat di atas sebagai berikut: Ibnu ‘Abbas: al-ghoib, yaitu 1) surga, neraka, siroth, mizan, al-ba’ts, al-hisab. 2) al-Qur’an 3) Allah subhanau wa ta’alaa; Ibnu Mas’ud: al-ghoib, yaitu apa saya yang tersembunyi dari pandangan para manusia menyangkut surge, neraka dan apa saja yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an. Mujahid: يؤمنون بالغيب yaitu iman kepada Allah; Zaid bin Aslam: al-ghoib yaitu takdir Demikianlah para ulama memahami dan menafsirkan kata ghaib yang terdapat dalam al-Qur’an.

Pembagian Ghaib Ghoib dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Ghoib Mutlak Ghoib Mutlak yaitu berkaitan dengan Allah subhanahu wa ta’alaa, dan tidak berkaitan dengan lainnya. 

Hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Dalil yang dijadikan sebagai dasar ghoib mutlak antara lain yaitu; surat an-Naml: 65 قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْن “Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan” surat Lukman: 34 اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. 

Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal” 2. Ghoib Nisbi Ghoib Nisbi yaitu perkara ghoib yang dimungkinkan makhluk dapat mengetahuinya, namun tidak secara terperinci. 

Disebut sebagai ghoib nisbi karena dinisbatkan pengetahuannya menyaksikan hal-hal yang ghoib. Sedangkan dalil yang dijadilan sebagai dasar ghoib nisbi yaitu surat Ali Imran: 44 ذٰلِكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهِ اِلَيْكَ ۗوَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يُلْقُوْنَ اَقْلَامَهُمْ اَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَۖ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ اِذْ يَخْتَصِمُوْنَ “Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak bersama mereka ketika mereka melemparkan pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam.

Dan engkau pun tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar” Dalam sebuah rubrik tanya jawab dengan nama “mafahim” dengan narasumber Syeikh Ali Jum’ah, beliau secara rinci menjelaskan tentang ghoib. 

Menurutnya ghoib dibagi menjadi 3, yaitu ghoib nisbi, ghoib muthlaq dan ghoib al-ghoib. 

1. Ghoib Nisbi Sesuai dengan karateristik di alam. Kita bisa melihat sesuatu dan bekas sesuatu, seperti listrik dan cahaya. 
Listri ada tp tidak bisa kita lihat. Yang kita lihat adalah bekasnya yaitu cahaya. 
Contoh lainnya yaitu akal. Indra manusia terbatas, maka apa yang tidak bisa dilihat/diketahui oleh indera. 

2. Ghoib Muthlaq Manusia tidak dapat melihat tapi makhluk lain dapat melihatnya. Seperti arsy, surga dan neraka, malaikat dapat melihatnya, tapi manusia tidak. 3. Ghoib al-Ghaib Yaitu Allah subhanahu wa ta’alaa. 

Dzat Allah tidak dapat diketahui baik oleh para nabi rasul, para malaikat dan makhluk ghaib lainnya. Referensi Al-Fairuzzabadi, Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub. (tt). Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas. Jakarta: Dar al-Kutub al-‘Arabiyah. Al-Ghaniman, Ahmad bin ‘Abdillah. (). ‘Ilm al-Ghoib fi asy-Syari’ah al-Islamiyah. Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam. Channel Youtub Nabawi TV, https://www.youtube.com/watch?v=dT8HcRdujrw&t=68s